Bekal Ayam Saus Mentega 101

Ketika jam makan siang dan sadar hari ini udah hari terakhir di bulan Januari. Tahun lalu berniat nulis sesuatu yang teknis di akhir tahun tapi sampai sekarang belum kesampaian juga. Lalu berubah pingin nulis cerita pengalaman yang agak berbobot tapi terlalu malas karena pasti bakal panjang. Sampai suami beberapa kali nyodorin buku, maksa supaya udah biar cepet aku ngeblog ngebahas buku aja. Akhirnya demi menyelamatkan awal tahun supaya tetep nulis, mungkin aku mau share menu bekalku dan suami hari ini aja :mrgreen:

Untuk pertama kalinya nulis tema resep, bikin judulnya aja gitu banget wkwk. Tapi jujur gara-gara nulis ini, sekian lama nikah baru ini rasanya kerasa jadi ibu-ibu  ._.

WhatsApp Image 2019-01-31 at 1.54.27 PM
bekal makan siang hari ini: ayam saus *margarin, rebusan sayur, ayam goreng tepung

Bahan:

  • ayam ( 1/4 kg, potong jangan terlalu besar)
  • mentega (3 sdm, *kuganti margarin blueband karena ndakpunya mentega hehehe)
  • bawang bombay (1/2 butir, iris tipis)
  • bawang putih (3 siung, cincang)
  • daun bawang
  • saus tiram, kecap, saus tomat
  • gula, garam, lada/merica bubuk

Step-step:

  1. Ayam, lumurin dengan saus tiram, masukkan ke kulkas semalam/beberapa jam
  2. Mentega/margarin, panasin di wajan sampai leleh lalu masukkan ayam. Masak dengan api kecil tunggu sampai ayam matang. Kalau aku sekitar 1/2 jam biar matang beneran. Ayam potong takut masih ada bau-bau aneh kalau kurang matang ._.
  3. Bawang bombay dan bawang putih, tumis bareng ayam sebentar
  4. Buat campuran saus di mangkuk kecil : saus tiram, saus tomat, kecap, gula, garam, lada, air. Masukkan campuran saus, aduk dan tunggu sampai bumbu meresap ke ayam, sekitar 10 menit sampai air menyusut. Icip dan koreksi rasa
  5. Tambah irisan daun bawang, siaap dihidangkan :3

Sebenernya semenjak pindah rumah ke Klaten bareng orang tua aku jadi lumayan jarang masak. Setiap bangun pagi sarapan udah siap, kalau pulang dari kampus juga makan malem udah ada. Bersyukuur banget. Tapi kadang kangen gitu sama masakan sendiri, suami juga kangen katanya hahaha (nggaktau sih gombal enggak -_-) . Sedihnya masakanku beda tipe banget sama masakan Ibuk, jadi kalau aku tiba-tiba masakin sesuatu itu jarang banget berhasil seselera sama lidah orang tua di rumah. Jadilah tiap mau masak harus pengumuman dulu dan rundingan menu masakan yang bener-bener semuanya doyan.

Kecuali bekal makan siang. Karena bekal makan siang dimakan-nya di luar rumah, dan yang bawa suamiku aja (aku juga kadang-kadang), jadi rasanya aku paling sering bisa masak sendiri ketika nyiapin bekal makan siang gini. Porsinya bisa dipas buat berdua aja jadi nggak nyisa. Terus juga nggak berasa nyuekin masakan Ibuk, sarapan tetep makan masakan Ibuk hehehe 😆

Baca Buku dari Google Play Books

Pagi ini mau cerita tentang ke-baru-tahu-an-ku pada Google Play Books, aplikasi bawaan Google, bagi yang handphonenya android, yang warna biru segitiga ada gambar bukunya. Yang selama ini selalu aku disable karena menuh-menuhin memori hp 😆

2018googleplaybooks
google play books

Jadi ceritanya waktu itu aku lagi ngikutin vlog seseorang tentang kebiasaan produktif gitu, dan disitu dia bilang salah satu cara mengisi waktu yang sekaligus merefresh otak akan pengetahuan baru adalah dengan rutin membaca buku (kalau dia prefer mendengarkan, kayaknya memang ada e-book di luar yang sekaligus ngasih audionya gitu).

Lalu, iseng langsunglah aku cari buku di playstore, dulu banget kayaknya pernah lihat ada yang jual e-book gitu. Terus aku coba cari salah satu buku Pramoedya, karena aku lumayan familiar, terus ternyata ada sampelnya gitu, jadi kira-kira kita dikasih 70an halaman yang bisa dibaca gratis. Penampakannya seperti ini.

0
e-book di google play store

Dan demi apapun aku baru tau kalau yang dimaksud e-book dari buku ini bukan file berekstensi .pdf seperti file-file paper 😆 Jadi si aplikasi Google Play Books inilah yang digunakan untuk membuka e-book yang kita beli dari play store. Jadilah ada beberapa fitur yang bikin sensasinya kayak baca buku beneran. Seperti swap pages yang kayak ada efek ngebalik lembaran buku, bookmark untuk pengganti pembatas buku, terus ada highlight warna-warni pengganti stabilo (walaupun kalau ini buku beneran kayaknya gak mungkin aku mau stabiloin), terus ada juga night mode yang ngerubah warna background jadi kekuningan kalau jam sudah menunjukkan waktu malam hari. Dan di akhir halaman sampel, tibalah kita diiming-imingin buat beli bukunya kalau mau lanjut baca haha.

2018googleplaybooksSample
fitur bookmark, highlight, dan halaman akhir sampel

Setelah selesai baca sampel dengan cepat, sempat galau sekitar seminggu, akhirnya atas support suamiku aku beli juga buku Pramoedya ini, yang judulnya Bumi Manusia. Pertimbanganku untuk beli e-book perdanaku ini ada beberapa:

  • harganya jauh lebih murah ketimbang buku asli, buku asli 2x lipat gitu
  • repot bawa buku tebel, karena mobilitas Klaten-Jogja hampir tiap hari
  • kecil kemungkinan ketinggalan di rumah, jadi nggak kagol keputus ceritanya
  • nggak suka diliatin orang lagi baca buku, lebih secure diliatin mainan hp hahaha…
  • bisa lanjutin baca ketika nunggu, ketimbang scroll2 timeline gak jelas

Dan pagi ini…jengjengjeng..akhirnya aku dibeliin suamiku buku ini. Belinya pakai semacam e-money nya google buat beli-beli di playstore, apa ya namanya, bisa beli di indomaret juga ada macem-macem pilihan harganya. Nah kebetulan pagi ini kami nggak beli di indomaret tapi pilih pakai gopay, karena ada cashback yang lumayan bisa buat go ride suami ke kantor hehe. Step-stepnya beli buku nya kira-kira di gambar ini:

2018googleplaybooksBuy
input kode e-money nya google play store yg udah dibeli pakai go-pay, saldo bertambah, beli e-booknya, e-book sudah tersimpan di library google Play Books yeay!

Maukah Kau Mengantarkanku?

Dwi.. terimakasih pengingatnya..

Teruntuk suamiku teman hidupku, saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

A Precious Life Footprint

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri?…

View original post 167 more words

Gara-gara lagu lama

Capture

Gara-gara sedang kerja lalu dengar lagu lama. Jadi otomatis meremin mata dan ngehirup-ngehela nafas panjang. Lalu buka blank page momentum di atas.

  • Bagian jam. Iya bener jam segitu, tapi good evening. Alias lewat tengah malam. Bukan bangun malam buka laptop setelah sholat malam. Bukan.
  • Todo-listnya. 2 to-do list yang kelihatan compact, but not even near at that point. For real. Beneran. Jadi jam segini ngerjain apa, ngerjakan hal yang oot-urgent-burdening-dan memakan tenaga. Tapi bukan dua hal dalam to-do list itu.
  • Quote momentumnya. Artikel terakhir yang kubaca tentang Intuiting Introvert-Intuiting Wife, perfectly reflected di quote ini. Kok bisa.
  • Foto background Abu Dhabi. Kayaknya foto pertama yang kudapat dari momentum yang berasa shooting inside pasan lagi ngehela nafas panjang tadi. Lainnya kayak wow, tapi kurang on point gitu sama perasaan. Jadi pingin berenang besok.

Dan finally the main question, is my question as well. Jadi mau fokus apa Naaa. Nyanyi-nyanyi – berbaper baper ngeresepin peran istri – berangan nyelesaiin tesis – ngerjain hal kompleks lain yang oot (without mentioning hal-hal gak jelas lain yang jadi penyela prioritas, semisal, update asian games tiap 2-3 jam).

 

Loudly Crying Face

Tentang harta kita

Beberapa kali ketika membuka home Youtube direkomendasikan dengan video yang sedang hangat saat itu, yakni tentang nasi 3 ribu rupiah bagi yang membutuhkan. Saya melihat video tersebut dan pada akhirnya dibuat nangis juga. Rasanya saya ini termasuk cuek, tapi entah kadang bisa over sensitif di hal-hal tertentu. Beberapa nilai yang bisa saya petik dari Pak Jusuf Hamka yang kemudian berputar-putar di kepala saya sampai saat ini :

  • Tanyakan dalam hati, sebenarnya apa interpretasi dari kata “sukses” atau “cukup” atau “settle” yang kita idam-idamkan dan kita cari selama ini?
  • Jika pada akhirnya di suatu waktu nanti kita mampu merasa cukup, lalu apalagi yang akan kita perbuat? menambah aset? memanjakan diri?
  • Berapa lama kah umur kita? maksimal 100 tahun, lalu apa?
  • Bahwa harta yang kita cari di dunia selama ini pada akhirnya terbagi menjadi 3. Jika dihabiskan sebagai makanan akan berakhir menjadi kotoran. Jika disimpan sebagai aset akan menjadi rebutan anak-cucu setelah meninggal. Dan terakhir jika kita sedekahkan jariyah akan menjadi aset akhirat kita yang mengalir meski setelah meninggal. Mau pilih yang mana saja?

Sedari kecil rasanya cita-cita hidup adalah cita-cita untuk mencari kesuksesan duniawi. Namun setelah sukses tidak ada lagi cita-cita spesifik yang pernah terfikirkan. Atau dituntutkan oleh sekitar, baik orang tua keluarga lingkaran pertemanan dan sebagainya. Sehingga mungkin sebagian besar umur kita habis untuk mencari harta dunia tanpa terasa, demi kepuasan perut dan pundi tabungan. 30 tahun, 40 atau 50 tahun kita masih saja bekerja untuk mencapai kata sukses. Padahal masih berapa lama umur kita?

Di umur yang sudah menginjak 25 tahun ini. Dengan lingkaran pertemanan yang mulai mapan menapaki karir masing-masing. Ternyata tidak jauh berbeda pula. Kelogisan pemikiran yang dijadikan keyakinan kami dalam merencanakan hidup, tidak jauh-jauh dari meteran materi dunia. Setiap saat serba insecure, semua berlomba menuju status “settle” versinya sendiri-sendiri. Rumah, mobil, tabungan, tanah dan lain sebagainya.

Lalu kapan mulai sedekahnya? Lalu bayangkan jika kita tidak pernah merasa sukses? dan kemudian meninggal. Semua harta itu.. baik sedikit atau pun banyak.. baik menurutmu itu sudah terhitung mapan atau belum. Pada akhirnya semua nanti akan dipertanggungjawabkan. Dan sungguh sebenarnya apa definisi dari sukses, jika kumpulan harta itu nanti malah menjadi penagih hisab tentang ketidakbermanfaatannya..

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.. Allah-lah yang mencukupi segala urusan.. Allah-lah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba…

 

Kangen bau mesjid ini

karpet masjid al mustaqim

Judulnya gitu, tapi sebenarnya dorongan jadi pingin nulis ini karena keinget ada memori tentang suami di sini hehe.

Jadi belakangan ini sempat kesini lagi untuk sholat dzuhur dan maghrib, setelah mungkin hampir satu tahun nggak kesini. Inget banget semasa masih kerja di sekitar sini, dzuhur selalu jadi waktu pelarian buat ngilangin stress. Sholat, berdoa, selonjoran kaki, ngerenungin macem-macem, dan kadang ngobrol juga sama mbak-mbak temen kantor.  Kalau sholat maghrib di sini lebih keinget tentang rasa gaenaknya sih haha. Jalan ke masjid sambil lihat langit yang udah gelap, jalan dengan badan yang udah lemes rasanya gerah dan gontai banget. Tapi masih sholat maghrib di mesjid ini berarti jam segitu dulu biasanya masih di kantor, masih ada kerjaan yang belum selesai.

Tapi sebenarnya kadang sengaja juga maksain buat tetep sholat di sini walaupun udah bisa ninggal kantor. Sengaja karena tahu calon suamiku (dulu) biasa sholat di masjid ini, yang dekat sama kosannya. Karena mungkin aja dia udah pulang dari berbagai aktivitas part-time-an-nya dan sholat di masjid ini. Karena mungkin aja aku jadi bisa ngeliat dia, yang dengan wajah capek dan baju kusut khasnya di sore hari, masuk ke masjid dari pintu samping masjid. Kayak gitu termasuk momen bahagia tersendiri buatku :” Yang walaupun setelahnya aku cerita pun, dia ternyata nggak ngeh dan jadi pengen ketemu ulang biar sama-sama ngeh kalau lagi ketemu :p

Suamiku, nggak kerasa ya sudah setahun..semoga Allah terus berikan kekuatan kesabaran kebahagian keberkahan buat keluarga kita  ❤ Aamiin..