buku

Baca Buku dari Google Play Books

Pagi ini mau cerita tentang ke-baru-tahu-an-ku pada Google Play Books, aplikasi bawaan Google, bagi yang handphonenya android, yang warna biru segitiga ada gambar bukunya. Yang selama ini selalu aku disable karena menuh-menuhin memori hp ūüėÜ

2018googleplaybooks

google play books

Jadi ceritanya waktu itu aku lagi ngikutin vlog seseorang tentang kebiasaan produktif gitu, dan disitu dia bilang salah satu cara mengisi waktu yang sekaligus merefresh otak akan pengetahuan baru adalah dengan rutin membaca buku (kalau dia prefer mendengarkan, kayaknya memang ada e-book di luar yang sekaligus ngasih audionya gitu).

Lalu, iseng langsunglah aku cari buku di playstore, dulu banget kayaknya pernah lihat ada yang jual e-book gitu. Terus aku coba cari salah satu buku Pramoedya, karena aku lumayan familiar, terus ternyata ada sampelnya gitu, jadi kira-kira kita dikasih 70an halaman yang bisa dibaca gratis. Penampakannya seperti ini.

0

e-book di google play store

Dan demi apapun aku baru tau kalau yang dimaksud e-book dari buku ini bukan file berekstensi .pdf seperti file-file paper ūüėÜ Jadi si aplikasi Google Play Books inilah yang digunakan untuk membuka e-book yang kita beli dari play store. Jadilah ada beberapa fitur yang bikin sensasinya kayak baca buku beneran. Seperti swap pages yang kayak ada efek ngebalik lembaran buku, bookmark untuk pengganti pembatas buku, terus ada highlight warna-warni pengganti stabilo (walaupun kalau ini buku beneran kayaknya gak mungkin aku mau stabiloin), terus ada juga night mode yang ngerubah warna background jadi kekuningan kalau jam sudah menunjukkan waktu malam hari. Dan di akhir halaman sampel, tibalah kita diiming-imingin buat beli bukunya kalau mau lanjut baca haha.

2018googleplaybooksSample

fitur bookmark, highlight, dan halaman akhir sampel

Setelah selesai baca sampel dengan cepat, sempat galau sekitar seminggu, akhirnya atas support suamiku aku beli juga buku Pramoedya ini, yang judulnya Bumi Manusia. Pertimbanganku untuk beli e-book perdanaku ini ada beberapa:

  • harganya jauh lebih murah ketimbang buku asli, buku asli 2x lipat gitu
  • repot bawa buku tebel, karena mobilitas Klaten-Jogja hampir tiap hari
  • kecil kemungkinan ketinggalan di rumah, jadi nggak kagol keputus ceritanya
  • nggak suka diliatin orang lagi baca buku, lebih secure diliatin mainan hp hahaha…
  • bisa lanjutin baca ketika nunggu, ketimbang scroll2 timeline gak jelas

Dan pagi ini…jengjengjeng..akhirnya aku dibeliin suamiku buku ini. Belinya pakai semacam e-money nya google buat beli-beli di playstore, apa ya namanya, bisa beli di indomaret juga ada macem-macem pilihan harganya. Nah kebetulan pagi ini kami nggak beli di indomaret tapi pilih pakai gopay, karena ada cashback yang lumayan bisa buat go ride suami ke kantor hehe. Step-stepnya beli buku nya kira-kira di gambar ini:

2018googleplaybooksBuy

input kode e-money nya google play store yg udah dibeli pakai go-pay, saldo bertambah, beli e-booknya, e-book sudah tersimpan di library google Play Books yeay!

Advertisements
Standard
keluarga, life lesson

Maukah Kau Mengantarkanku?

Dwi.. terimakasih pengingatnya..

Teruntuk suamiku teman hidupku, saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

A Precious Life Footprint

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri?…

View original post 167 more words

Standard
uncategorized

Gara-gara lagu lama

Capture

Gara-gara sedang kerja lalu dengar lagu lama. Jadi otomatis meremin mata dan ngehirup-ngehela nafas panjang. Lalu buka blank page momentum di atas.

  • Bagian jam. Iya bener jam segitu, tapi good evening. Alias lewat tengah malam. Bukan bangun malam buka laptop setelah sholat malam. Bukan.
  • Todo-listnya. 2 to-do list yang kelihatan compact, but not even near at that point. For real. Beneran. Jadi jam segini ngerjain apa, ngerjakan hal yang oot-urgent-burdening-dan memakan tenaga. Tapi bukan dua hal dalam to-do list itu.
  • Quote momentumnya. Artikel terakhir yang kubaca tentang Intuiting Introvert-Intuiting Wife, perfectly reflected di quote ini. Kok bisa.
  • Foto background Abu Dhabi. Kayaknya foto pertama yang kudapat dari momentum yang berasa shooting inside pasan lagi ngehela nafas panjang tadi. Lainnya kayak wow, tapi kurang on point gitu sama perasaan. Jadi pingin berenang besok.

Dan finally the main question, is my question as well. Jadi mau fokus apa Naaa. Nyanyi-nyanyi – berbaper baper ngeresepin peran istri – berangan nyelesaiin tesis – ngerjain hal kompleks lain yang oot (without mentioning hal-hal gak jelas lain yang jadi penyela prioritas, semisal, update asian games tiap 2-3 jam).

 

Loudly Crying Face

Standard
life lesson

Tentang harta kita

Beberapa kali ketika membuka home Youtube direkomendasikan dengan video yang sedang hangat saat itu, yakni tentang nasi 3 ribu rupiah bagi yang membutuhkan. Saya melihat video tersebut dan pada akhirnya dibuat nangis juga. Rasanya saya ini termasuk cuek, tapi entah kadang bisa over sensitif di hal-hal tertentu. Beberapa nilai yang bisa saya petik dari Pak Jusuf Hamka yang kemudian berputar-putar di kepala saya sampai saat ini :

  • Tanyakan dalam hati, sebenarnya apa interpretasi dari kata “sukses” atau “cukup” atau “settle” yang kita idam-idamkan dan kita cari selama ini?
  • Jika pada akhirnya di suatu waktu nanti kita mampu merasa cukup, lalu apalagi yang akan kita perbuat? menambah aset? memanjakan diri?
  • Berapa lama kah umur kita? maksimal 100 tahun, lalu apa?
  • Bahwa harta yang kita cari di dunia selama ini pada akhirnya terbagi menjadi 3. Jika dihabiskan sebagai makanan akan berakhir menjadi kotoran. Jika disimpan sebagai aset akan menjadi rebutan anak-cucu setelah meninggal. Dan terakhir jika kita sedekahkan jariyah akan menjadi aset akhirat kita yang mengalir meski setelah meninggal. Mau pilih yang mana saja?

Sedari kecil rasanya cita-cita hidup adalah cita-cita untuk mencari kesuksesan duniawi. Namun setelah sukses tidak ada lagi cita-cita spesifik yang pernah terfikirkan. Atau dituntutkan oleh sekitar, baik orang tua keluarga lingkaran pertemanan dan sebagainya. Sehingga mungkin sebagian besar umur kita habis untuk mencari harta dunia tanpa terasa, demi kepuasan perut dan pundi tabungan. 30 tahun, 40 atau 50 tahun kita masih saja bekerja untuk mencapai kata sukses. Padahal masih berapa lama umur kita?

Di umur yang sudah menginjak 25 tahun ini. Dengan lingkaran pertemanan yang mulai mapan menapaki karir masing-masing. Ternyata tidak jauh berbeda pula. Kelogisan pemikiran yang dijadikan keyakinan kami dalam merencanakan hidup, tidak jauh-jauh dari meteran materi dunia. Setiap saat serba insecure, semua berlomba menuju status “settle”¬†versinya sendiri-sendiri. Rumah, mobil, tabungan, tanah dan lain sebagainya.

Lalu kapan mulai sedekahnya? Lalu bayangkan jika kita tidak pernah merasa sukses? dan kemudian meninggal. Semua harta itu.. baik sedikit atau pun banyak.. baik menurutmu itu sudah terhitung mapan atau belum. Pada akhirnya semua nanti akan dipertanggungjawabkan. Dan sungguh sebenarnya apa definisi dari sukses, jika kumpulan harta itu nanti malah menjadi penagih hisab tentang ketidakbermanfaatannya..

Hasbunallah wa ni‚Äômal wakiil.. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.. Allah-lah yang mencukupi segala urusan.. Allah-lah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba…

 

Standard
uncategorized

Kangen bau mesjid ini

karpet masjid al mustaqim

Judulnya gitu, tapi sebenarnya dorongan jadi pingin nulis ini karena keinget ada memori tentang suami di sini hehe.

Jadi belakangan ini sempat kesini lagi untuk sholat dzuhur dan maghrib, setelah mungkin hampir satu tahun nggak kesini. Inget banget semasa masih kerja di sekitar sini, dzuhur selalu jadi waktu pelarian buat ngilangin stress. Sholat, berdoa, selonjoran kaki, ngerenungin macem-macem, dan kadang ngobrol juga sama mbak-mbak temen kantor.  Kalau sholat maghrib di sini lebih keinget tentang rasa gaenaknya sih haha. Jalan ke masjid sambil lihat langit yang udah gelap, jalan dengan badan yang udah lemes rasanya gerah dan gontai banget. Tapi masih sholat maghrib di mesjid ini berarti jam segitu dulu biasanya masih di kantor, masih ada kerjaan yang belum selesai.

Tapi sebenarnya kadang sengaja juga maksain buat tetep sholat di sini walaupun udah bisa ninggal kantor. Sengaja karena tahu calon suamiku (dulu) biasa sholat di masjid ini, yang¬†dekat sama kosannya. Karena mungkin aja dia udah pulang dari berbagai aktivitas part-time-an-nya dan sholat di masjid ini. Karena mungkin aja aku jadi bisa ngeliat dia, yang dengan wajah capek dan baju kusut khasnya di sore hari, masuk ke masjid dari pintu samping masjid. Kayak gitu termasuk momen bahagia tersendiri buatku :” Yang walaupun setelahnya aku cerita pun, dia ternyata nggak ngeh dan jadi pengen ketemu ulang biar sama-sama ngeh kalau lagi ketemu :p

Suamiku, nggak kerasa ya sudah setahun..semoga Allah terus berikan kekuatan kesabaran kebahagian keberkahan buat keluarga kita¬† ‚̧ Aamiin..

Standard
life lesson, perkuliahan

Semester baru

photo6293852364574140364

Nggak terasa sudah satu semester kelewat dari saat aku keluar kerja dari kantor pertamaku. Saat itu jujur lumayan sedih juga, karena udah ngerasa cocok, nyaman dan nggak tau apa yang bakal aku hadapin setelah keluar dari tempat itu. Alasannya, aku mau fokus ke keluarga dan fokus sekolah lagi, sounds reassuring. Tapi sebenarnya dalam hati galau juga, apa iya bakal all out sama dua alesan itu? apa iya bisa sesemangat ini seterusnya?

Sampai, nggak lama aku beraniin diri buat punya lagi kepinginan untuk jadi instruktur praktikum. Ya, “punya lagi”. Dari sebelum dapat kerjaan aku bilang ke teman-temanku kalau dikasih kesempatan pingin rasanya cobain jadi instruktur, tapi selalu ada alasan¬† buat tidak melakukannya haha. Kalau nggak kepepet dengan status jobless gini rasanya nggak akan berani nanya ke suami apa ada lowongan instruktur praktikum atau enggak. Dengan drama, jadi dalam hati pingin dapet tapi mindernya setengah mati. Urusan ngomong di depan orang memang jadi pr hidupku sedari dulu, dari kecil huhuhu.¬†Dan alhamdulillah, pas lagi ada lowongan dan pas mata kuliah yang aku familiar, bismillah kuiyakan.

Enam bulan berlalu dan banyak pelajaran yang didapat dari pengalamanku mengajar untuk pertama kalinya. Dari tiga kelas yang aku ajar, masing-masing siswanya punya pola belajar dan pola bersikap yang berbeda. Kekhawatiranku ternyata berubah seiring waktu. Awalnya merasa bahwa keminderanku buat ngomong di depan umum itu masalah banget masalah utama masalah satu-satunya. Dan ternyata masalah yang lebih urgent adalah gimana caranya siswa bisa faham dengan apa yang aku ajarkan.

  • menyamakan resonansi di awal pertemuan. menceritakan gambaran umum tentang mata kuliah ke siswa dan menekankan ulang di pertemuan-pertemuan berikutnya. karena ternyata, siswa itu harus diingatkan berkali-kali bahwa kita ini sedang menaiki kapal apa dan mau kemana. kalau tidak, di tengah jalan atau bahkan dari awal pertemuan siswa sebagai penumpang kapalnya akan linglung sedang pengemudinya tak peduli terus berjalan.
  • memposisikan diri sebagai seorang teman dengan hardskill yang lebih baik namun tetap reachable untuk berdiskusi belajar bersama. sering terpikirkan skill dewa anak kuliahan IT jaman sekarang, ditambah beberapa outlier yang ada di tiap kelas bikin minder sama hardskill ngoding diri sendiri. juga muncul rasa bersalah kalau materi yang kita buat terlalu gampang. but turns out thats not all true. akan tetap ada siswa dengan tipe yang harus dibimbing, dan seringnya sebagian besar seperti itu. apalagi praktikum itu harus banyak latihan kan jadi kalau bukan dari instrukturnya dari mana lagi siswa dapat semangatnya. toh, kalaupun benar ada siswa yang skillnya dewa, nggak ada salahnya giliran kita yang curi-curi minta ilmu mereka kan. kecuali kalau semua siswa tak terkecuali skillnya sudah dewa, mungkin aku bakar mundur dan belajar sendiri dulu aja haha kan kasian mereka nggak dapat tambahan ilmu baru (( minder lagi kann.. ūüė• ))
  • adab-adab komunikasi. jadi intinya yang bikin nyaman adalah komunikasi yang enggak men-senior-junior-kan atau sok minta dihormati (rasanya sih gitu, tapi mungkin cara nulisnya masih belum nemu yang pas). intinya menjaga sopan santun seperlunya. misal, kalau bertanya dijawab, kalau bertemu saling sapa (bukan minta disapa aja loh ya), kalau di kelas sedang dijelaskan jangan gaduh sendiri dan semacamnya. benar-benar aku bukan tipe yang suka minta dihormati rasanya. malah insecure sendiri kan kalau siswa dikit-dikit takut atau panik ke kita. aku suka secara mengalir hubungan ke siswa itu hangat dua arah gitu. siswa gak ragu buat tanya langsung atau email¬†misal ada kesulitan (ingat, sopan santun antar insan tetap dijaga ya tapi haha). bahkan setelah kelas, setelah semester selesai pun, rasanya seneng papasan terus saling ngeh dan saling sapa sama siswa yang pernah aku ajar. serius :”

Sekarang, menyambut semester depan insyaAllah bakal jadi instruktur lagi. Alhamdulillah, atas bantuan suami dan kemurahan si bapak senior kenalan suami, aku dikasih kesempatan ngajar lagi. Mata kuliah yang sejujurnya lebih tidak familiar dibanding mata kuliah yang sebelumnya. Tapi rasanya, sedang di fase lumayan semangat, jadi sekarang sedang menyibukkan diri mencari materi dan merancang pembelajaran besok. Semoga bisa menjalankan dengan baik kesempatan ini dan bisa memberikan manfaat ke siswa-siswa yang aku ajar besok, lebih baik insyaa Allah¬†‚̧

Standard