life lesson, perkuliahan, tech

Penolakan yang mencerahkan

Kutipan balasan email dari seorang professor, punya suami. Tapi sejak beberapa hari terngiang terus di pikiranku. Rasanya bukan kecewa, ya ada sih sedikit wkwk, soalnya ini bukan pertama kalinya mendapat email penolakan. Tapi apa ya, aku ngerasa ini beda dibanding balasan-balasan penolakan sebelumnya. 3 kalimat dalam email itu saja sudah bisa membuat clear dan ringan di pikiran, bagiku yang sebenarnya cuman pemeran figuran :mrgreen:

Thanks for your interest. Unfortunately, your grades are not competitive for entry to my group. Students I admit have perfect or nearly perfect academic score.

Cheers,

Kalimat pertama, tetap nggak lupa buat munculin rasa gratitude jadi kerasa dihargain kan. Kalimat kedua, rasanya kayak frontal tapi fakta wkwkwk. Aku misal sebagai pelamar bakal langsung sadar bahwa kurangku adalah ini loh, nggak perlu menebak-nebak alasan lain atau malah mrembet jadi baper ngerasa salah ngomong. Kalimat ketiga, rasanya kayak ketampar gitu, nunjukkin kalau tempat yang kita lamar itu bukanlah “kelas” kita. Dan berkat itu, ngerasa mbantu banget nyadarin buat lebih fokus untuk cari tempat lain yang sekiranya masuk ke kualifikasi yang dipunya. Yang tentunya bikin bisa lebih mateng ngeriset tempat-tempat yang lain juga, jadi nggak terlalu melebar.

Terus sebenernya yang bikin meringankan juga, adalah bagian salam yang kesannya nggak formal. Tapi karena itu malah serasa disemangatin (apa aku yang terlalu khusnudzon wkwk). Rasanya si pembalas email kayak enteng aja gitu ngereject, terus jadi ngerasa pasti banyak calon yang udah direject juga entah alesannya sama atau beda hahaha

Ngomong-ngomong masalah ketampar sama kemampuan diri, jadi inget sehari sebelum dikasih lihat email itu aku sempet lihat video ini.

Sejujurnya aku lebih sering berasa mindernya sih dibanding yang kayak di video ._. Tapi setelah nonton video ini, jadi mikir kayaknya ada deh beberapa kesempatan ngerasa kayak gini, ngerasa nge-overrated-in diri sendiri wkwk. Dan yang langsung muncul di kepalaku setelah nonton, solusinya aku harus lebih produktif menghasilkan karya, jelas haha. Lalu dibarengin aku harus lebih banyak ngobrol atau diskusi atau sharing apapun supaya faham sama kemampuan diri sendiri, sekalian belajar menempatkan diri. Bersosialisasi ke orang lain dari lingkup apaapun. Supaya nggak keblinger karena nggak pernah lihat ke atas, tapi juga jangan lupa bersyukur dengan ngelihat ke bawah. Cheers! ūüėÄ

Advertisements
Standard
keluarga, life lesson

Mengasah rasa

Foto hasil makaroni schotel tadi siang, tapi tulisan kali ini bukan mau membahas tentang resep.

makaroni schotel panggang

Modifikasi pribadi dari tutorial resep : resep makaroni schotel

Setiap memasak sesuatu yang agak nggak biasa (weekend), aku selalu usahakan bagi-bagi ke saudara, dan sengaja pula sejak rela-relain nabung beli bahan dipikir buat porsi yang agak lebih banyak (lebih dari 2 porsi maksudnya, hehe).

Lalu tadi sore terjadi percakapan seperti berikut,

[Instruction: akan lebih nyaman jika font browser dizoom-out karena ternyata fontsize agak susah diatur]

di ruang keluarga rumahku dengan personil lengkap (minus suami), aku membuka percakapan. bener-bener percakapan pembuka.

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
(H jauh lebih muda dari aku)
H : eneg. nggak habis.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak
H : iya eneg.
another H : lhaiya kayak gitu ngasihnya, ya eneg.

dan obrolan tentang topik ini selesai. begitu juga minatku untuk melakukan obrolan apapun di antaranya.

Coba dibandingkan dengan percakapan khayalan berikut:

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
H : dimaem tan, makasih yaa. tapi maaf nggak habis makannya.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak oalaah iyaya mungkin aku kebanyakan ngasihnya.

H : iya tan, jadi nggak habis. 
another H : yaudah, udah nggak papa.

mungkin percakapan akan tetap berhenti dari topik itu. tapi setidaknya move on ke topik lain yang lebih positif.

Percakapan di atas bukan pertama kali terjadi, bahkan aku berani bilang sering terjadi. Bukan aku anti kritik, atau nggak ikhlas atau haus pujian¬†na’udzubillahimindzalik. Tapi, apa iya sesulit itu dalam bersikap atau berbicara, dengan adab-adab dasar. Maaf; tolong; terima kasih; ini baru masalah perkataan. Jika mau mencerna lebih dalam dari sepotong percakapan di atas, rasa bersyukur; rasa menjaga perasaan; rasa menjaga ikatan saudara; rasa menghormati; ah alih-alih merasakan, kan? Astaghfirullah..

Yang baik harus dibiasakan, meski hanya sedikit. Yang baik harus diajarkan, meski masih anak kecil. Betapa suatu rasa dari tindakan itu menular. Kebaikan akan menularkan kebaikan. Dan keburukan (dalam bentuk apapun, ketidak pedulian misalnya) juga akan menular, bahkan memusnahkan kebaikan. Mengerikan.

Itulah mengapa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar. Menjadi diri sendiri, adalah tanggung jawab dasar. Tapi memiliki anak, bukan hanya masalah menafkahi dan mensekolahkan, hidup dan mati aku berani bilang. Dunia dan akhirat bagi kita dan bagi mereka, dimulai sejak mampu berpikir dan sampai waktunya diakhiri. Karena kita dihidupkan Allah bukan hanya untuk sekedar menjalani sampai mati, tapi menghidupi kehidupan ini dan nanti.

Standard
life lesson

Mengusahakan

Tentang melakukan yang terbaik, menjaga hak-hak orang di sekitar kita. Kadang kita terlalu fokus pada anggapan orang lain. Selalu merasa bersalah, padahal sudah mengusahakan yang terbaik. Insecure, pada penilaian orang. Lalai, tidak terasa mengorbankan kesehatan kita sendiri demi melegakan banyak pihak. Karena definisi baik setiap orang berbeda. Mungkin tak akan pernah bisa terpenuhi, karena tingkatan rasa syukur tiap orang juga berbeda.

Memikirkan orang lain itu baik. Usahakan yang terbaik sesuai kondisi saat ini, tapi pikiran, berpikirlah sebisanya dan sekuatnya saja. Jangan dipaksakan, sampai menggerogoti kesehatan. 

Ibuk,
kurang lebihnya.

Kesehatan nalar, kesehatan jiwa, kesehatan akan adanya rasa peduli. I will just take it for granted, for the sake of me, myself. 

Standard
keluarga, life lesson

Maukah Kau Mengantarkanku?

Dwi.. terimakasih pengingatnya..

Teruntuk suamiku teman hidupku, saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

A Precious Life Footprint

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri?…

View original post 167 more words

Standard
life lesson

Tentang harta kita

Beberapa kali ketika membuka home Youtube direkomendasikan dengan video yang sedang hangat saat itu, yakni tentang nasi 3 ribu rupiah bagi yang membutuhkan. Saya melihat video tersebut dan pada akhirnya dibuat nangis juga. Rasanya saya ini termasuk cuek, tapi entah kadang bisa over sensitif di hal-hal tertentu. Beberapa nilai yang bisa saya petik dari Pak Jusuf Hamka yang kemudian berputar-putar di kepala saya sampai saat ini :

  • Tanyakan dalam hati, sebenarnya apa interpretasi dari kata “sukses” atau “cukup” atau “settle” yang kita idam-idamkan dan kita cari selama ini?
  • Jika pada akhirnya di suatu waktu nanti kita mampu merasa cukup, lalu apalagi yang akan kita perbuat? menambah aset? memanjakan diri?
  • Berapa lama kah umur kita? maksimal 100 tahun, lalu apa?
  • Bahwa harta yang kita cari di dunia selama ini pada akhirnya terbagi menjadi 3. Jika dihabiskan sebagai makanan akan berakhir menjadi kotoran. Jika disimpan sebagai aset akan menjadi rebutan anak-cucu setelah meninggal. Dan terakhir jika kita sedekahkan jariyah akan menjadi aset akhirat kita yang mengalir meski setelah meninggal. Mau pilih yang mana saja?

Sedari kecil rasanya cita-cita hidup adalah cita-cita untuk mencari kesuksesan duniawi. Namun setelah sukses tidak ada lagi cita-cita spesifik yang pernah terfikirkan. Atau dituntutkan oleh sekitar, baik orang tua keluarga lingkaran pertemanan dan sebagainya. Sehingga mungkin sebagian besar umur kita habis untuk mencari harta dunia tanpa terasa, demi kepuasan perut dan pundi tabungan. 30 tahun, 40 atau 50 tahun kita masih saja bekerja untuk mencapai kata sukses. Padahal masih berapa lama umur kita?

Di umur yang sudah menginjak 25 tahun ini. Dengan lingkaran pertemanan yang mulai mapan menapaki karir masing-masing. Ternyata tidak jauh berbeda pula. Kelogisan pemikiran yang dijadikan keyakinan kami dalam merencanakan hidup, tidak jauh-jauh dari meteran materi dunia. Setiap saat serba insecure, semua berlomba menuju status “settle”¬†versinya sendiri-sendiri. Rumah, mobil, tabungan, tanah dan lain sebagainya.

Lalu kapan mulai sedekahnya? Lalu bayangkan jika kita tidak pernah merasa sukses? dan kemudian meninggal. Semua harta itu.. baik sedikit atau pun banyak.. baik menurutmu itu sudah terhitung mapan atau belum. Pada akhirnya semua nanti akan dipertanggungjawabkan. Dan sungguh sebenarnya apa definisi dari sukses, jika kumpulan harta itu nanti malah menjadi penagih hisab tentang ketidakbermanfaatannya..

Hasbunallah wa ni‚Äômal wakiil.. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.. Allah-lah yang mencukupi segala urusan.. Allah-lah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba…

 

Standard
life lesson, perkuliahan

Semester baru

photo6293852364574140364

Nggak terasa sudah satu semester kelewat dari saat aku keluar kerja dari kantor pertamaku. Saat itu jujur lumayan sedih juga, karena udah ngerasa cocok, nyaman dan nggak tau apa yang bakal aku hadapin setelah keluar dari tempat itu. Alasannya, aku mau fokus ke keluarga dan fokus sekolah lagi, sounds reassuring. Tapi sebenarnya dalam hati galau juga, apa iya bakal all out sama dua alesan itu? apa iya bisa sesemangat ini seterusnya?

Sampai, nggak lama aku beraniin diri buat punya lagi kepinginan untuk jadi instruktur praktikum. Ya, “punya lagi”. Dari sebelum dapat kerjaan aku bilang ke teman-temanku kalau dikasih kesempatan pingin rasanya cobain jadi instruktur, tapi selalu ada alasan¬† buat tidak melakukannya haha. Kalau nggak kepepet dengan status jobless gini rasanya nggak akan berani nanya ke suami apa ada lowongan instruktur praktikum atau enggak. Dengan drama, jadi dalam hati pingin dapet tapi mindernya setengah mati. Urusan ngomong di depan orang memang jadi pr hidupku sedari dulu, dari kecil huhuhu.¬†Dan alhamdulillah, pas lagi ada lowongan dan pas mata kuliah yang aku familiar, bismillah kuiyakan.

Enam bulan berlalu dan banyak pelajaran yang didapat dari pengalamanku mengajar untuk pertama kalinya. Dari tiga kelas yang aku ajar, masing-masing siswanya punya pola belajar dan pola bersikap yang berbeda. Kekhawatiranku ternyata berubah seiring waktu. Awalnya merasa bahwa keminderanku buat ngomong di depan umum itu masalah banget masalah utama masalah satu-satunya. Dan ternyata masalah yang lebih urgent adalah gimana caranya siswa bisa faham dengan apa yang aku ajarkan.

  • menyamakan resonansi di awal pertemuan. menceritakan gambaran umum tentang mata kuliah ke siswa dan menekankan ulang di pertemuan-pertemuan berikutnya. karena ternyata, siswa itu harus diingatkan berkali-kali bahwa kita ini sedang menaiki kapal apa dan mau kemana. kalau tidak, di tengah jalan atau bahkan dari awal pertemuan siswa sebagai penumpang kapalnya akan linglung sedang pengemudinya tak peduli terus berjalan.
  • memposisikan diri sebagai seorang teman dengan hardskill yang lebih baik namun tetap reachable untuk berdiskusi belajar bersama. sering terpikirkan skill dewa anak kuliahan IT jaman sekarang, ditambah beberapa outlier yang ada di tiap kelas bikin minder sama hardskill ngoding diri sendiri. juga muncul rasa bersalah kalau materi yang kita buat terlalu gampang. but turns out thats not all true. akan tetap ada siswa dengan tipe yang harus dibimbing, dan seringnya sebagian besar seperti itu. apalagi praktikum itu harus banyak latihan kan jadi kalau bukan dari instrukturnya dari mana lagi siswa dapat semangatnya. toh, kalaupun benar ada siswa yang skillnya dewa, nggak ada salahnya giliran kita yang curi-curi minta ilmu mereka kan. kecuali kalau semua siswa tak terkecuali skillnya sudah dewa, mungkin aku bakar mundur dan belajar sendiri dulu aja haha kan kasian mereka nggak dapat tambahan ilmu baru (( minder lagi kann.. ūüė• ))
  • adab-adab komunikasi. jadi intinya yang bikin nyaman adalah komunikasi yang enggak men-senior-junior-kan atau sok minta dihormati (rasanya sih gitu, tapi mungkin cara nulisnya masih belum nemu yang pas). intinya menjaga sopan santun seperlunya. misal, kalau bertanya dijawab, kalau bertemu saling sapa (bukan minta disapa aja loh ya), kalau di kelas sedang dijelaskan jangan gaduh sendiri dan semacamnya. benar-benar aku bukan tipe yang suka minta dihormati rasanya. malah insecure sendiri kan kalau siswa dikit-dikit takut atau panik ke kita. aku suka secara mengalir hubungan ke siswa itu hangat dua arah gitu. siswa gak ragu buat tanya langsung atau email¬†misal ada kesulitan (ingat, sopan santun antar insan tetap dijaga ya tapi haha). bahkan setelah kelas, setelah semester selesai pun, rasanya seneng papasan terus saling ngeh dan saling sapa sama siswa yang pernah aku ajar. serius :”

Sekarang, menyambut semester depan insyaAllah bakal jadi instruktur lagi. Alhamdulillah, atas bantuan suami dan kemurahan si bapak senior kenalan suami, aku dikasih kesempatan ngajar lagi. Mata kuliah yang sejujurnya lebih tidak familiar dibanding mata kuliah yang sebelumnya. Tapi rasanya, sedang di fase lumayan semangat, jadi sekarang sedang menyibukkan diri mencari materi dan merancang pembelajaran besok. Semoga bisa menjalankan dengan baik kesempatan ini dan bisa memberikan manfaat ke siswa-siswa yang aku ajar besok, lebih baik insyaa Allah¬†‚̧

Standard
life lesson

Perbaikan untuk siapa?

dsc_0423

Selalu terpikir seperti ini ketika merasa tersakiti olehnya. Seakan bisa lebih jernih dalam memandang usaha yg telah dilakukan. Perbaikan ini, kalau lah sudah, dilakukan untuk siapa? Kalau lah hari ini dan akan ada banyak lagi di depan nanti terulang, akan sangat terasa bahwa seharusnya bukan deminya, bukan? Maka..hanya Allah tempatku kembali hanya Allah tempatku kembali. Semoga Allah selalu menjagaku..

Bahkan ketika nanti semua sudah dibungkus kehalalan, Allah selamatkan aku dari candu rasa memiliki, Allah selamatkan aku..

Standard