keluarga, life lesson

Mengasah rasa

Foto hasil makaroni schotel tadi siang, tapi tulisan kali ini bukan mau membahas tentang resep.

makaroni schotel panggang

Modifikasi pribadi dari tutorial resep : resep makaroni schotel

Setiap memasak sesuatu yang agak nggak biasa (weekend), aku selalu usahakan bagi-bagi ke saudara, dan sengaja pula sejak rela-relain nabung beli bahan dipikir buat porsi yang agak lebih banyak (lebih dari 2 porsi maksudnya, hehe).

Lalu tadi sore terjadi percakapan seperti berikut,

[Instruction: akan lebih nyaman jika font browser dizoom-out karena ternyata fontsize agak susah diatur]

di ruang keluarga rumahku dengan personil lengkap (minus suami), aku membuka percakapan. bener-bener percakapan pembuka.

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
(H jauh lebih muda dari aku)
H : eneg. nggak habis.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak
H : iya eneg.
another H : lhaiya kayak gitu ngasihnya, ya eneg.

dan obrolan tentang topik ini selesai. begitu juga minatku untuk melakukan obrolan apapun di antaranya.

Coba dibandingkan dengan percakapan khayalan berikut:

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
H : dimaem tan, makasih yaa. tapi maaf nggak habis makannya.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak oalaah iyaya mungkin aku kebanyakan ngasihnya.

H : iya tan, jadi nggak habis. 
another H : yaudah, udah nggak papa.

mungkin percakapan akan tetap berhenti dari topik itu. tapi setidaknya move on ke topik lain yang lebih positif.

Percakapan di atas bukan pertama kali terjadi, bahkan aku berani bilang sering terjadi. Bukan aku anti kritik, atau nggak ikhlas atau haus pujian na’udzubillahimindzalik. Tapi, apa iya sesulit itu dalam bersikap atau berbicara, dengan adab-adab dasar. Maaf; tolong; terima kasih; ini baru masalah perkataan. Jika mau mencerna lebih dalam dari sepotong percakapan di atas, rasa bersyukur; rasa menjaga perasaan; rasa menjaga ikatan saudara; rasa menghormati; ah alih-alih merasakan, kan? Astaghfirullah..

Yang baik harus dibiasakan, meski hanya sedikit. Yang baik harus diajarkan, meski masih anak kecil. Betapa suatu rasa dari tindakan itu menular. Kebaikan akan menularkan kebaikan. Dan keburukan (dalam bentuk apapun, ketidak pedulian misalnya) juga akan menular, bahkan memusnahkan kebaikan. Mengerikan.

Itulah mengapa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar. Menjadi diri sendiri, adalah tanggung jawab dasar. Tapi memiliki anak, bukan hanya masalah menafkahi dan mensekolahkan, hidup dan mati aku berani bilang. Dunia dan akhirat bagi kita dan bagi mereka, dimulai sejak mampu berpikir dan sampai waktunya diakhiri. Karena kita dihidupkan Allah bukan hanya untuk sekedar menjalani sampai mati, tapi menghidupi kehidupan ini dan nanti.

Advertisements
Standard
keluarga, resep

Camilan Pisang Aroma

Aku dan suami tiap harinya biasa kerja di depan laptop sampai malam dan hampir selalu butuh asupan cemilan. Paling sering beli di indomaret jajan kemasan atau  beli jajanan yang semisal roti bakar, pisang keju dsb. Tapi sering juga, misal lagi nggak kecapekan dan bahan ready stock, bikin camilan sederhana yang bisa dibuat kilat malem itu juga, kayak gorengan, cilok, pisang aroma dsb. Resep yang agak lebih berat pernah juga sebenernya, resep yang butuh alat lebih misal donat atau kue kering, biasanya dieksekusi weekend dan suami harus berkontribusi hahaha

Sejujurnya waktu bikin pisang aroma pertama kali nggak berusaha nyari resep yang benernya dulu, tapi ternyata hasil rasanya udah mirip. Jadi sharing resep kali ini misal ada yang beda atau kurang dari resep pisang aroma pada umumnya yaudah lah ya hehe

Bahan dan cara  kulit pisang aroma:

  • tepung terigu  (80 gr / 10 sdm)
  • garam (2 sdt, aku lebih suka kulit yang agak asin untuk balancing manisnya pisang)
  • bubuk vanili  (1 sdt)
  • air
  • minyak goreng untuk oles teflon, kuas silikon

Campur semua bahan sampai jadi adonan cair tapi nggak terlalu encer. Oleskan adonan  dengan kuas ke seluruh permukaan teflon. Teflon terlebih dahulu sudah dioles minyak goreng, oles lagi setelah 2/3 kali pembuatan kulit. Panaskan teflon dengan api kecil, tunggu 15-25 detik lalu angkat kulit. Jangan sampai kulit terlalu kering, karena akan mudah retak dan sulit digulung. Ketika menumpuk kulit yang sudah jadi bisa ditaburi tepung (beras/terigu) supaya tidak lengket antar kulitnya. Cara ini bisa jadi sekitar 15-20 kulit pisang aroma.

Bahan dan cara  pisang aroma:

  • pisang raja (atau jenis lain yang lumer dan manis ketika digoreng)
  • gula pasir, gula jawa
  • DCC/coklat batang yang sudah dipotong-potong kecil

Potong satu buah pisang menjadi 6 bagian (atau sesuai selera). Ambil 1 lembar kulit pisang aroma, taburi gula, letakkan potongan pisang di atas gula, taburi lagi gula di atas pisang, tambah coklat, dan gulung kulit sampai menutup. Goreng dan pisang aroma siap diangkat ketika warna sudah kecoklatan (jangan sampai gosong).

Standard
keluarga, resep

Bekal Ala Bento Jepang

Bismillah.. sepertinya bakal rutin nulis pos tentang resep gini, itung-itung biar nggak lupa dan siapa tau bermanfaat hehe

WhatsApp Image 2019-02-07 at 10.44.14 AM
nasi kornet bon cabe, telur gulung jamur, rebusan brokoli, ayam goreng tepung

Nasi kornet bon cabe

Bagian yang rasanya paling mirip sama bento-bento Jepang yang asli, dibentuk-bentuk biar lucu. Bahannya: nasi anget – kornet yang udah ditumis margarin bentar – bon cabe. Caranya: campur semua bahan lalu bentuk jadi bola-bola dan taburin lagi bon cabe (kalau suka pedes)

Telur gulung jamur

Bahan: telur ayam yang udah dikocok kasih garam sedikit – jamur kuping yang udah direndem air panas dan diiris tipis2. Caranya: oles teflon dengan margarin sedikit. Tuang sebagian telur ke teflon lalu tabur sebagian jamur kuping. Tunggu agak matang, lalu gulung. Ulangi lagi, tuang telur (di area teflon yg masih kosong, nempel ke telur gulung yg udah matang) –> jamur –> gulung. Sampai semua bahan habis. Setelah matang lalu potong-potong melintang. Kalau bingung mungkin bisa lihat video ini hehe tutorial: telur gulung ala Jepang

Ayam goreng tepung

Bahan: ayam yang udah dimarinasi garam dan saus tiram – telur dikocok – tepung bumbu (kalau bikin sendiri –> tepung terigu:tepung tapioka:tepung maizena 3:1:1 + garam + lada + kaldu bubuk). Caranya: celupkan ayam ke telur yang sudah dikocok. Angkat lalu gulungkan ke tepung bumbu. Angkat celupkan ke telur lagi. Terakhir lumuri dengan tepung bumbu lagi, dan goreng (minyak agak banyak, sampai ayam tercelup). Aku prefer goreng dengan api kecil tapi agak lama supaya daging ayam matang tapi kulitnya nggak gosong.

Rebusan brokoli 

Atau bisa diganti sembarang sayur, sawi putih/pokcoy/bayam terseraah. Aku terbilang suka sayur dan kerasa agak gimana kalau menu makan nggak pakai sayur. Jadi ketika menu lauknya agak njlimet diakalin pakai rebusan sayur. Cepet dan enak *menurutku 😆
Bahan: bawang putih geprek – garam. Caranya: didihkan air + bawang putih + garam, lalu rebus sayur, sebentar aja. Siap dihidangkaan 😀

Standard
keluarga, resep

Bekal Ayam Saus Mentega 101

Ketika jam makan siang dan sadar hari ini udah hari terakhir di bulan Januari. Tahun lalu berniat nulis sesuatu yang teknis di akhir tahun tapi sampai sekarang belum kesampaian juga. Lalu berubah pingin nulis cerita pengalaman yang agak berbobot tapi terlalu malas karena pasti bakal panjang. Sampai suami beberapa kali nyodorin buku, maksa supaya udah biar cepet aku ngeblog ngebahas buku aja. Akhirnya demi menyelamatkan awal tahun supaya tetep nulis, mungkin aku mau share menu bekalku dan suami hari ini aja :mrgreen:

Untuk pertama kalinya nulis tema resep, bikin judulnya aja gitu banget wkwk. Tapi jujur gara-gara nulis ini, sekian lama nikah baru ini rasanya kerasa jadi ibu-ibu  ._.

WhatsApp Image 2019-01-31 at 1.54.27 PM

bekal makan siang hari ini: ayam saus *margarin, rebusan sayur, ayam goreng tepung

Bahan:

  • ayam ( 1/4 kg, potong jangan terlalu besar)
  • mentega (3 sdm, *kuganti margarin blueband karena ndakpunya mentega hehehe)
  • bawang bombay (1/2 butir, iris tipis)
  • bawang putih (3 siung, cincang)
  • daun bawang
  • saus tiram, kecap, saus tomat
  • gula, garam, lada/merica bubuk

Step-step:

  1. Ayam, lumurin dengan saus tiram, masukkan ke kulkas semalam/beberapa jam
  2. Mentega/margarin, panasin di wajan sampai leleh lalu masukkan ayam. Masak dengan api kecil tunggu sampai ayam matang. Kalau aku sekitar 1/2 jam biar matang beneran. Ayam potong takut masih ada bau-bau aneh kalau kurang matang ._.
  3. Bawang bombay dan bawang putih, tumis bareng ayam sebentar
  4. Buat campuran saus di mangkuk kecil : saus tiram, saus tomat, kecap, gula, garam, lada, air. Masukkan campuran saus, aduk dan tunggu sampai bumbu meresap ke ayam, sekitar 10 menit sampai air menyusut. Icip dan koreksi rasa
  5. Tambah irisan daun bawang, siaap dihidangkan :3

Sebenernya semenjak pindah rumah ke Klaten bareng orang tua aku jadi lumayan jarang masak. Setiap bangun pagi sarapan udah siap, kalau pulang dari kampus juga makan malem udah ada. Bersyukuur banget. Tapi kadang kangen gitu sama masakan sendiri, suami juga kangen katanya hahaha (nggaktau sih gombal enggak -_-) . Sedihnya masakanku beda tipe banget sama masakan Ibuk, jadi kalau aku tiba-tiba masakin sesuatu itu jarang banget berhasil seselera sama lidah orang tua di rumah. Jadilah tiap mau masak harus pengumuman dulu dan rundingan menu masakan yang bener-bener semuanya doyan.

Kecuali bekal makan siang. Karena bekal makan siang dimakan-nya di luar rumah, dan yang bawa suamiku aja (aku juga kadang-kadang), jadi rasanya aku paling sering bisa masak sendiri ketika nyiapin bekal makan siang gini. Porsinya bisa dipas buat berdua aja jadi nggak nyisa. Terus juga nggak berasa nyuekin masakan Ibuk, sarapan tetep makan masakan Ibuk hehehe 😆

Standard
keluarga, life lesson

Maukah Kau Mengantarkanku?

Dwi.. terimakasih pengingatnya..

Teruntuk suamiku teman hidupku, saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

A Precious Life Footprint

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri?…

View original post 167 more words

Standard
keluarga

Cerita tentang Taiba

Sedang kangen-kangennya sama teman-teman yang pernah dekat di waktu kuliah. Kalau dipikir ya aku bukan tipe yang punya genk. Cuma entah kenapa, jatuhnya pergi kemana atau ikut acara apa pun ketemu dengan beberapa orang yang cenderung saling beririsan bahkan gabungan. Nggak mau disebut genk, mungkin lebih ke kemiripan preference hidup, atau yaudah pokoknya takdir haha. Terus beruntungnya adalah mereka punya blog pribadi masing-masing, dari yang sehari bisa menulis lebih dari dua tulisan sampai yang updatenya beberapa bulan sekali. Dan kebetulan seorang teman yang termasuk di kategori rajin menulis sekarang jadi teman hidup alias suami, ehem. haha.

Anyway yang mau aku ceritain adalah, dulu aku pun punya blog, sejak jaman sekolah di sma. Dan setelah belakangan ngerasa ada yang aku nggak nyaman di banyak postingan di blogku terdahulu, maka daripada menghapus aku pilih untuk private supaya blog itu tidak menimbulkan hal yang nggak diinginkan, kan. Nah jadilah aku buat blog baru dengan nama growingtaiba ini, tempat bersandar, yang semoga lebih banyak mendatangkan manfaat buatku dan nggak menjadi tambahan beban hisabku kelak aamiin.

Growingtaiba ya artinya taiba yang sedang tumbuh. Taiba itu apa, dulu aku berusaha ingat-ingat terus nama ini, nama seorang anak perempuan yang aku pernah kenalan di suatu tempat. Belum tahu apa artinya. Kemudian tidak lama aku pergi lagi ke suatu tempat, yang lain, dan found this name used not so commonly but sure was recognizable, di tempat tersebut. Jadilah nama itu ketanam aja di pikiran ini, adek yang imut, semoga tumbuh menjadi anak sholehah dan menjadi sebaik-baik berkah bagi kedua orang tuanya aamiin. Jadilah sebenarnya nama blog ini hanyalah entitas pengingat masa bertemu adeknya.

Sampai kemudian di pagi hari Kamis yang mendung ini, yang mana aku sedang bergelut dengan ketidakstabilan emosi kemalasan yang menjadi, aku kangen pergi ke tempat itu, keinget adek taiba, dan mencari arti nama taiba.

Taiba (تائبة) means a woman who loves to repent to Allah for all sins, minor or major, and always prays to God for forgiveness.

quranicnames.com

Terus kok jadi baper yaaa, berhubung sama suami udah agak sering baper kalau lihat tingkah dedek lucu, atau bayangin gimana parenting ke dedek besok :” Jadi berasa nemu nama yang pas buat dedek, kalau perempuan – suatu saat nanti insyaa Allah, nama yg bagus secara harfiah maupun sejarah gitu hehe.

Standard