Bahagianya sate kambing

Kebahagiaan ketika  nggak sengaja nemu resep yang berhasil dieksekusi dan pas di lidah, dalam percobaan pertama. Beneran bahagia, sampai senyum-senyum nggak jelas sambil makan hasilnya. Jadi untuk pertama kalinya dapat jatah dari masjid sedikit daging kambing. Karena orang tua gak biasa konsumsi kambing, jadi otomatis jadi kena tanggung jawab masak dan makannya. Udah lewat dua hari dan daging yang nggak sampai setengah kilo itu masih di kulkas, udah direwelin ibuk tiap ketemu di dapur haha. Karena aktivitas Jogja-Klaten yang timingnya pagi-malem, jadilah dagingnya aku bumbuin (hasil liat youtube yang pasti) dan.., ditaruh kulkas lagi hahaha

Pagi ini, berhubung suami ke kantornya sendiri, akhirnya di rumah nyempetin buat beneran eksekusi nusukin daging dan ngebakar 4 tusuk dulu. Terus setelah dicoba, enak, dan langsung pingin share di sini aja rasanya.

WhatsApp Image 2019-08-14 at 10.42.10 AM

Bumbu marinasi:

Bawang putih (3) – Bawang merah (5) – Jahe dan lengkuas (2 cm) – Ketumbar dan merica (1/2 sdt) – Gula jawa (1/2 cetakan) – Garam (1/2 sdm) – Air asam jawa (2 bungkus asem yg harga 500an, setengah gelas air).

Bumbu ini dihaluskan terus dilumurin ke dagingnya dan didiamkan. Nggak yakin minimal berapa lama, mungkin sejam-an cukup. Tapi sesuai ceritaku di atas, karena nggak sempat-sempat, jadi malah semaleman aku ngemarinasinya.

Bumbu sambel kecap:

Cabe rawit iris – Tomat iris – Bawang merah iris – Kecap bangau (menurutku kalau merk lain nggak seenak ini haha)

Bakar:

Bakar sedikit-sedikit, dan dioles-olesin lagi tiap ngebalik dagingnya pakai bumbu marinasi tadi. Bumbu marinasi yang kupakai olesan ditambahin kecap manis + margarin cair (kayaknya bikin dagingnya nggak kering). Alat bakar bisa pakai arang, bisa yang di atas kompor. Kalau yang ada di rumah modelnya yang bisa muter-muter gitu kalau kena api.

Sajikan sate kambing + sambel kecap + merica bubuk + irisan kubis. Langsung dimakan ya, kalau lama didiemin bisa berubah jadi keras dagingnya ūüėÄ

Penolakan yang mencerahkan

Kutipan balasan email dari seorang professor, punya suami. Tapi sejak beberapa hari terngiang terus di pikiranku. Rasanya bukan kecewa, ya ada sih sedikit wkwk, soalnya ini bukan pertama kalinya mendapat email penolakan. Tapi apa ya, aku ngerasa ini beda dibanding balasan-balasan penolakan sebelumnya. 3 kalimat dalam email itu saja sudah bisa membuat clear dan ringan di pikiran, bagiku yang sebenarnya cuman pemeran figuran :mrgreen:

Thanks for your interest. Unfortunately, your grades are not competitive for entry to my group. Students I admit have perfect or nearly perfect academic score.

Cheers,

Kalimat pertama, tetap nggak lupa buat munculin rasa gratitude jadi kerasa dihargain kan. Kalimat kedua, rasanya kayak frontal tapi fakta wkwkwk. Aku misal sebagai pelamar bakal langsung sadar bahwa kurangku adalah ini loh, nggak perlu menebak-nebak alasan lain atau malah mrembet jadi baper ngerasa salah ngomong. Kalimat ketiga, rasanya kayak ketampar gitu, nunjukkin kalau tempat yang kita lamar itu bukanlah “kelas” kita. Dan berkat itu, ngerasa mbantu banget nyadarin buat lebih fokus untuk cari tempat lain yang sekiranya masuk ke kualifikasi yang dipunya. Yang tentunya bikin bisa lebih mateng ngeriset tempat-tempat yang lain juga, jadi nggak terlalu melebar.

Terus sebenernya yang bikin meringankan juga, adalah bagian salam yang kesannya nggak formal. Tapi karena itu malah serasa disemangatin (apa aku yang terlalu khusnudzon wkwk). Rasanya si pembalas email kayak enteng aja gitu ngereject, terus jadi ngerasa pasti banyak calon yang udah direject juga entah alesannya sama atau beda hahaha

Ngomong-ngomong masalah ketampar sama kemampuan diri, jadi inget sehari sebelum dikasih lihat email itu aku sempet lihat video ini.

Sejujurnya aku lebih sering berasa mindernya sih dibanding yang kayak di video ._. Tapi setelah nonton video ini, jadi mikir kayaknya ada deh beberapa kesempatan ngerasa kayak gini, ngerasa nge-overrated-in diri sendiri wkwk. Dan yang langsung muncul di kepalaku setelah nonton, solusinya aku harus lebih produktif menghasilkan karya, jelas haha. Lalu dibarengin aku harus lebih banyak ngobrol atau diskusi atau sharing apapun supaya faham sama kemampuan diri sendiri, sekalian belajar menempatkan diri. Bersosialisasi ke orang lain dari lingkup apaapun. Supaya nggak keblinger karena nggak pernah lihat ke atas, tapi juga jangan lupa bersyukur dengan ngelihat ke bawah. Cheers! ūüėÄ

Mengasah rasa

Foto hasil makaroni schotel tadi siang, tapi tulisan kali ini bukan mau membahas tentang resep.

makaroni schotel panggang
Modifikasi pribadi dari tutorial resep : resep makaroni schotel

Setiap memasak sesuatu yang agak nggak biasa (weekend), aku selalu usahakan bagi-bagi ke saudara, dan sengaja pula sejak rela-relain nabung beli bahan dipikir buat porsi yang agak lebih banyak (lebih dari 2 porsi maksudnya, hehe).

Lalu tadi sore terjadi percakapan seperti berikut,

di ruang keluarga rumahku dengan personil lengkap (minus suami), aku membuka percakapan. bener-bener percakapan pembuka.

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
(H jauh lebih muda dari aku)
H : eneg. nggak habis.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak
H : iya eneg.
another H : lhaiya kayak gitu ngasihnya, ya eneg.

dan obrolan tentang topik ini selesai. begitu juga minatku untuk melakukan obrolan apapun di antaranya.

Coba dibandingkan dengan percakapan khayalan berikut:

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
H : dimaem tan, makasih yaa. tapi maaf nggak habis makannya.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak oalaah iyaya mungkin aku kebanyakan ngasihnya.

H : iya tan, jadi nggak habis. 
another H : yaudah, udah nggak papa.

mungkin percakapan akan tetap berhenti dari topik itu. tapi setidaknya move on ke topik lain yang lebih positif.

Percakapan di atas bukan pertama kali terjadi, bahkan aku berani bilang sering terjadi. Bukan aku anti kritik, atau nggak ikhlas atau haus pujian¬†na’udzubillahimindzalik. Tapi, apa iya sesulit itu dalam bersikap atau berbicara, dengan adab-adab dasar. Maaf; tolong; terima kasih; ini baru masalah perkataan. Jika mau mencerna lebih dalam dari sepotong percakapan di atas, rasa bersyukur; rasa menjaga perasaan; rasa menjaga ikatan saudara; rasa menghormati; ah alih-alih merasakan, kan? Astaghfirullah..

Yang baik harus dibiasakan, meski hanya sedikit. Yang baik harus diajarkan, meski masih anak kecil. Betapa suatu rasa dari tindakan itu menular. Kebaikan akan menularkan kebaikan. Dan keburukan (dalam bentuk apapun, ketidak pedulian misalnya) juga akan menular, bahkan memusnahkan kebaikan. Mengerikan.

Itulah mengapa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar. Menjadi diri sendiri, adalah tanggung jawab dasar. Tapi memiliki anak, bukan hanya masalah menafkahi dan mensekolahkan, hidup dan mati aku berani bilang. Dunia dan akhirat bagi kita dan bagi mereka, dimulai sejak mampu berpikir dan sampai waktunya diakhiri. Karena kita dihidupkan Allah bukan hanya untuk sekedar menjalani sampai mati, tapi menghidupi kehidupan ini dan nanti.

Camilan Pisang Aroma

Aku dan suami tiap harinya biasa kerja di depan laptop sampai malam dan hampir selalu butuh asupan cemilan. Paling sering beli di indomaret jajan kemasan atau  beli jajanan yang semisal roti bakar, pisang keju dsb. Tapi sering juga, misal lagi nggak kecapekan dan bahan ready stock, bikin camilan sederhana yang bisa dibuat kilat malem itu juga, kayak gorengan, cilok, pisang aroma dsb. Resep yang agak lebih berat pernah juga sebenernya, resep yang butuh alat lebih misal donat atau kue kering, biasanya dieksekusi weekend dan suami harus berkontribusi hahaha

Sejujurnya waktu bikin pisang aroma pertama kali nggak berusaha nyari resep yang benernya dulu, tapi ternyata hasil rasanya udah mirip. Jadi sharing resep kali ini misal ada yang beda atau kurang dari resep pisang aroma pada umumnya yaudah lah ya hehe

Bahan dan cara  kulit pisang aroma:

  • tepung terigu¬† (80 gr / 10 sdm)
  • garam (2 sdt, aku lebih suka kulit yang agak asin untuk balancing manisnya pisang)
  • bubuk vanili¬† (1 sdt)
  • air
  • minyak goreng untuk oles teflon, kuas silikon

Campur semua bahan sampai jadi adonan cair tapi nggak terlalu encer. Oleskan adonan  dengan kuas ke seluruh permukaan teflon. Teflon terlebih dahulu sudah dioles minyak goreng, oles lagi setelah 2/3 kali pembuatan kulit. Panaskan teflon dengan api kecil, tunggu 15-25 detik lalu angkat kulit. Jangan sampai kulit terlalu kering, karena akan mudah retak dan sulit digulung. Ketika menumpuk kulit yang sudah jadi bisa ditaburi tepung (beras/terigu) supaya tidak lengket antar kulitnya. Cara ini bisa jadi sekitar 15-20 kulit pisang aroma.

Bahan dan cara  pisang aroma:

  • pisang raja (atau jenis lain yang lumer dan manis ketika digoreng)
  • gula pasir, gula jawa
  • DCC/coklat batang yang sudah dipotong-potong kecil

Potong satu buah pisang menjadi 6 bagian (atau sesuai selera). Ambil 1 lembar kulit pisang aroma, taburi gula, letakkan potongan pisang di atas gula, taburi lagi gula di atas pisang, tambah coklat, dan gulung kulit sampai menutup. Goreng dan pisang aroma siap diangkat ketika warna sudah kecoklatan (jangan sampai gosong).

Mengusahakan

Tentang melakukan yang terbaik, menjaga hak-hak orang di sekitar kita. Kadang kita terlalu fokus pada anggapan orang lain. Selalu merasa bersalah, padahal sudah mengusahakan yang terbaik. Insecure, pada penilaian orang. Lalai, tidak terasa mengorbankan kesehatan kita sendiri demi melegakan banyak pihak. Karena definisi baik setiap orang berbeda. Mungkin tak akan pernah bisa terpenuhi, karena tingkatan rasa syukur tiap orang juga berbeda.

Memikirkan orang lain itu baik. Usahakan yang terbaik sesuai kondisi saat ini, tapi pikiran, berpikirlah sebisanya dan sekuatnya saja. Jangan dipaksakan, sampai menggerogoti kesehatan. 

Ibuk,
kurang lebihnya.

Kesehatan nalar, kesehatan jiwa, kesehatan akan adanya rasa peduli. I will just take it for granted, for the sake of me, myself. 

Bekal Ala Bento Jepang

Bismillah.. sepertinya bakal rutin nulis pos tentang resep gini, itung-itung biar nggak lupa dan siapa tau bermanfaat hehe

WhatsApp Image 2019-02-07 at 10.44.14 AM
nasi kornet bon cabe, telur gulung jamur, rebusan brokoli, ayam goreng tepung

Nasi kornet bon cabe

Bagian yang rasanya paling mirip sama bento-bento Jepang yang asli, dibentuk-bentuk biar lucu. Bahannya: nasi anget – kornet yang udah ditumis margarin bentar – bon cabe. Caranya: campur semua bahan lalu bentuk jadi bola-bola dan taburin lagi bon cabe (kalau suka pedes)

Telur gulung jamur

Bahan: telur ayam yang udah dikocok kasih garam sedikit – jamur kuping yang udah direndem air panas dan diiris tipis2. Caranya: oles teflon dengan margarin sedikit. Tuang sebagian telur ke teflon lalu tabur sebagian jamur kuping. Tunggu agak matang, lalu gulung. Ulangi lagi, tuang telur (di area teflon yg masih kosong, nempel ke telur gulung yg udah matang) –> jamur –> gulung. Sampai semua bahan habis. Setelah matang lalu potong-potong melintang. Kalau bingung mungkin bisa lihat video ini hehe¬†tutorial: telur gulung ala Jepang

Ayam goreng tepung

Bahan: ayam yang udah dimarinasi garam dan saus tiram – telur dikocok – tepung bumbu (kalau bikin sendiri –> tepung terigu:tepung tapioka:tepung maizena 3:1:1 + garam + lada + kaldu bubuk). Caranya: celupkan ayam ke telur yang sudah dikocok. Angkat lalu gulungkan ke tepung bumbu. Angkat celupkan ke telur lagi. Terakhir lumuri dengan tepung bumbu lagi, dan goreng (minyak agak banyak, sampai ayam tercelup). Aku prefer goreng dengan api kecil tapi agak lama supaya daging ayam matang tapi kulitnya nggak gosong.

Rebusan brokoli 

Atau bisa diganti sembarang sayur, sawi putih/pokcoy/bayam terseraah. Aku terbilang suka sayur dan kerasa agak gimana kalau menu makan nggak pakai sayur. Jadi ketika menu lauknya agak njlimet diakalin pakai rebusan sayur. Cepet dan enak *menurutku ūüėÜ
Bahan: bawang putih geprek – garam. Caranya: didihkan air + bawang putih + garam, lalu rebus sayur, sebentar aja. Siap dihidangkaan ūüėÄ