Apa-apa di 2020

Lagi-lagi menulis di penghujung tahun setelah tahun ini hanya bisa menulis 2 tulisan di blog ini. Tipikal tulisan akhir tahun, aku mau share apa-apa yang sudah terjadi dan terlewat di tahun ini. Walaupun ini nggak ada tujuan yang spesifik, tapi tetep semoga ada manfaat yang bisa diambil, minimal buat diri sendiri pas baca ini lagi di tahun depan.

1. Akhirnya selesai Tesis

Setelah berhasil fokus tesis kembali, akhirnya mulai coding di bulan Agustus 2019 dan bisa dibilang selesai eksperimen di bulan Desember 2019. Tapi entah gimana, kombinasi procastination, panik padahal tinggal nulis laporan, dan mungkin kalau boleh ngeluh harus dihadapkan masa pandemi, aku baru bisa sidang pra Tesis di Mei 2020 dan sidang Tesis di bulan Juli 2020. Tapi aku nggak menyesali apapun alhamdulillah. Malahan kalau diinget aku berasa terharu banget ternyata aku bisa balik fokus lagi dan beneran nyelesaiin ini semua. Mengingat 2019 yang full banget dengan lika-liku ujian, for better me insyaallah, terima kasih diriku, terima kasih suamiku, terima kasih sahabat-sahabatku, dan banyak lagi yang ngedukung.

Continue reading “Apa-apa di 2020”

Doa berlindung dari hati yang tidak khusyu’

Allohumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’,
wa min qolbin laa yakhsya’,
wa min nafsin laa tasyba’,
wa min da’watin laa yustajaabu lahaa.

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabul.
(HR. Muslim, no. 2722, dari Zaid bin Arqom radhiyallahu ‘anhu)

Sumber:
Buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup, Penerbit Rumaysho
Buletin https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/04/Buletin-Rumaysho-Al-Azhar-Wonosari-Edisi-31.pdf

Posted in doa

10 Karakteristik Thufuliyah (kanak-kanak)

Semua tulisan dalam artikel ini diambil dari Transkrip Audio Pembahasan Kitab Mendidik Anak Sesuai Sunnah Nabi oleh Radio Muslim JogjaFile pdf transkrip bisa diunduh langsung di situs radiomuslim, khususnya untuk artikel ini pada link unduh Bagian 1.

Pembagian usia anak secara umum, beberapa fase berdasarkan perincian usia manusia yang lebih lengkap oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani:

  1. Thufuliyah shugro (kanak-kanak kecil) : 0-2 tahun
  2. Thufuliyah kubro (kanak-kanak besar) : 2-7 tahun
  3. Mumayyiz : 7-10 tahun
  4. Hazawwar : 10-14 tahun (atau sampai baligh)

Pembagian di atas, batasan umur tiap kelompoknya bisa saja tidak mutlak, karena perbedaan perkembangan anak yang satu dan yang lain. Kita tidak wajib menghafal fase-fase tersebut. Hanya saja kita sebagai orang tua wajib tahu dan faham, bahwa tiap usia ini ada ciri dan karakteristik unik. Hal ini sebagai pedoman kita dalam cara mendidik dan berperilaku di tiap fase. Tidak memaksakan, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.

Continue reading “10 Karakteristik Thufuliyah (kanak-kanak)”

Bahagianya sate kambing

Kebahagiaan ketika  nggak sengaja nemu resep yang berhasil dieksekusi dan pas di lidah, dalam percobaan pertama. Beneran bahagia, sampai senyum-senyum nggak jelas sambil makan hasilnya. Jadi untuk pertama kalinya dapat jatah dari masjid sedikit daging kambing. Karena orang tua gak biasa konsumsi kambing, jadi otomatis jadi kena tanggung jawab masak dan makannya. Udah lewat dua hari dan daging yang nggak sampai setengah kilo itu masih di kulkas, udah direwelin ibuk tiap ketemu di dapur haha. Karena aktivitas Jogja-Klaten yang timingnya pagi-malem, jadilah dagingnya aku bumbuin (hasil liat youtube yang pasti) dan.., ditaruh kulkas lagi hahaha

Pagi ini, berhubung suami ke kantornya sendiri, akhirnya di rumah nyempetin buat beneran eksekusi nusukin daging dan ngebakar 4 tusuk dulu. Terus setelah dicoba, enak, dan langsung pingin share di sini aja rasanya.

WhatsApp Image 2019-08-14 at 10.42.10 AM

Bumbu marinasi:

Bawang putih (3) – Bawang merah (5) – Jahe dan lengkuas (2 cm) – Ketumbar dan merica (1/2 sdt) – Gula jawa (1/2 cetakan) – Garam (1/2 sdm) – Air asam jawa (2 bungkus asem yg harga 500an, setengah gelas air).

Bumbu ini dihaluskan terus dilumurin ke dagingnya dan didiamkan. Nggak yakin minimal berapa lama, mungkin sejam-an cukup. Tapi sesuai ceritaku di atas, karena nggak sempat-sempat, jadi malah semaleman aku ngemarinasinya.

Bumbu sambel kecap:

Cabe rawit iris – Tomat iris – Bawang merah iris – Kecap bangau (menurutku kalau merk lain nggak seenak ini haha)

Bakar:

Bakar sedikit-sedikit, dan dioles-olesin lagi tiap ngebalik dagingnya pakai bumbu marinasi tadi. Bumbu marinasi yang kupakai olesan ditambahin kecap manis + margarin cair (kayaknya bikin dagingnya nggak kering). Alat bakar bisa pakai arang, bisa yang di atas kompor. Kalau yang ada di rumah modelnya yang bisa muter-muter gitu kalau kena api.

Sajikan sate kambing + sambel kecap + merica bubuk + irisan kubis. Langsung dimakan ya, kalau lama didiemin bisa berubah jadi keras dagingnya 😀

Penolakan yang mencerahkan

Kutipan balasan email dari seorang professor, punya suami. Tapi sejak beberapa hari terngiang terus di pikiranku. Rasanya bukan kecewa, ya ada sih sedikit wkwk, soalnya ini bukan pertama kalinya mendapat email penolakan. Tapi apa ya, aku ngerasa ini beda dibanding balasan-balasan penolakan sebelumnya. 3 kalimat dalam email itu saja sudah bisa membuat clear dan ringan di pikiran, bagiku yang sebenarnya cuman pemeran figuran :mrgreen:

Thanks for your interest. Unfortunately, your grades are not competitive for entry to my group. Students I admit have perfect or nearly perfect academic score.

Cheers,

Kalimat pertama, tetap nggak lupa buat munculin rasa gratitude jadi kerasa dihargain kan. Kalimat kedua, rasanya kayak frontal tapi fakta wkwkwk. Aku misal sebagai pelamar bakal langsung sadar bahwa kurangku adalah ini loh, nggak perlu menebak-nebak alasan lain atau malah mrembet jadi baper ngerasa salah ngomong. Kalimat ketiga, rasanya kayak ketampar gitu, nunjukkin kalau tempat yang kita lamar itu bukanlah “kelas” kita. Dan berkat itu, ngerasa mbantu banget nyadarin buat lebih fokus untuk cari tempat lain yang sekiranya masuk ke kualifikasi yang dipunya. Yang tentunya bikin bisa lebih mateng ngeriset tempat-tempat yang lain juga, jadi nggak terlalu melebar.

Terus sebenernya yang bikin meringankan juga, adalah bagian salam yang kesannya nggak formal. Tapi karena itu malah serasa disemangatin (apa aku yang terlalu khusnudzon wkwk). Rasanya si pembalas email kayak enteng aja gitu ngereject, terus jadi ngerasa pasti banyak calon yang udah direject juga entah alesannya sama atau beda hahaha

Ngomong-ngomong masalah ketampar sama kemampuan diri, jadi inget sehari sebelum dikasih lihat email itu aku sempet lihat video ini.

Sejujurnya aku lebih sering berasa mindernya sih dibanding yang kayak di video ._. Tapi setelah nonton video ini, jadi mikir kayaknya ada deh beberapa kesempatan ngerasa kayak gini, ngerasa nge-overrated-in diri sendiri wkwk. Dan yang langsung muncul di kepalaku setelah nonton, solusinya aku harus lebih produktif menghasilkan karya, jelas haha. Lalu dibarengin aku harus lebih banyak ngobrol atau diskusi atau sharing apapun supaya faham sama kemampuan diri sendiri, sekalian belajar menempatkan diri. Bersosialisasi ke orang lain dari lingkup apaapun. Supaya nggak keblinger karena nggak pernah lihat ke atas, tapi juga jangan lupa bersyukur dengan ngelihat ke bawah. Cheers! 😀

Mengasah rasa

Foto hasil makaroni schotel tadi siang, tapi tulisan kali ini bukan mau membahas tentang resep.

makaroni schotel panggang
Modifikasi pribadi dari tutorial resep : resep makaroni schotel

Setiap memasak sesuatu yang agak nggak biasa (weekend), aku selalu usahakan bagi-bagi ke saudara, dan sengaja pula sejak rela-relain nabung beli bahan dipikir buat porsi yang agak lebih banyak (lebih dari 2 porsi maksudnya, hehe).

Lalu tadi sore terjadi percakapan seperti berikut,

di ruang keluarga rumahku dengan personil lengkap (minus suami), aku membuka percakapan. bener-bener percakapan pembuka.

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
(H jauh lebih muda dari aku)
H : eneg. nggak habis.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak
H : iya eneg.
another H : lhaiya kayak gitu ngasihnya, ya eneg.

dan obrolan tentang topik ini selesai. begitu juga minatku untuk melakukan obrolan apapun di antaranya.

Coba dibandingkan dengan percakapan khayalan berikut:

A : dimaem enggak tadi makaroninya?
H : dimaem tan, makasih yaa. tapi maaf nggak habis makannya.
A :  loh tadi yang minta dibanyakin kan si embak oalaah iyaya mungkin aku kebanyakan ngasihnya.

H : iya tan, jadi nggak habis. 
another H : yaudah, udah nggak papa.

mungkin percakapan akan tetap berhenti dari topik itu. tapi setidaknya move on ke topik lain yang lebih positif.

Percakapan di atas bukan pertama kali terjadi, bahkan aku berani bilang sering terjadi. Bukan aku anti kritik, atau nggak ikhlas atau haus pujian na’udzubillahimindzalik. Tapi, apa iya sesulit itu dalam bersikap atau berbicara, dengan adab-adab dasar. Maaf; tolong; terima kasih; ini baru masalah perkataan. Jika mau mencerna lebih dalam dari sepotong percakapan di atas, rasa bersyukur; rasa menjaga perasaan; rasa menjaga ikatan saudara; rasa menghormati; ah alih-alih merasakan, kan? Astaghfirullah..

Yang baik harus dibiasakan, meski hanya sedikit. Yang baik harus diajarkan, meski masih anak kecil. Betapa suatu rasa dari tindakan itu menular. Kebaikan akan menularkan kebaikan. Dan keburukan (dalam bentuk apapun, ketidak pedulian misalnya) juga akan menular, bahkan memusnahkan kebaikan. Mengerikan.

Itulah mengapa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar. Menjadi diri sendiri, adalah tanggung jawab dasar. Tapi memiliki anak, bukan hanya masalah menafkahi dan mensekolahkan, hidup dan mati aku berani bilang. Dunia dan akhirat bagi kita dan bagi mereka, dimulai sejak mampu berpikir dan sampai waktunya diakhiri. Karena kita dihidupkan Allah bukan hanya untuk sekedar menjalani sampai mati, tapi menghidupi kehidupan ini dan nanti.

Camilan Pisang Aroma

Aku dan suami tiap harinya biasa kerja di depan laptop sampai malam dan hampir selalu butuh asupan cemilan. Paling sering beli di indomaret jajan kemasan atau  beli jajanan yang semisal roti bakar, pisang keju dsb. Tapi sering juga, misal lagi nggak kecapekan dan bahan ready stock, bikin camilan sederhana yang bisa dibuat kilat malem itu juga, kayak gorengan, cilok, pisang aroma dsb. Resep yang agak lebih berat pernah juga sebenernya, resep yang butuh alat lebih misal donat atau kue kering, biasanya dieksekusi weekend dan suami harus berkontribusi hahaha

Sejujurnya waktu bikin pisang aroma pertama kali nggak berusaha nyari resep yang benernya dulu, tapi ternyata hasil rasanya udah mirip. Jadi sharing resep kali ini misal ada yang beda atau kurang dari resep pisang aroma pada umumnya yaudah lah ya hehe

Bahan dan cara  kulit pisang aroma:

  • tepung terigu  (80 gr / 10 sdm)
  • garam (2 sdt, aku lebih suka kulit yang agak asin untuk balancing manisnya pisang)
  • bubuk vanili  (1 sdt)
  • air
  • minyak goreng untuk oles teflon, kuas silikon

Campur semua bahan sampai jadi adonan cair tapi nggak terlalu encer. Oleskan adonan  dengan kuas ke seluruh permukaan teflon. Teflon terlebih dahulu sudah dioles minyak goreng, oles lagi setelah 2/3 kali pembuatan kulit. Panaskan teflon dengan api kecil, tunggu 15-25 detik lalu angkat kulit. Jangan sampai kulit terlalu kering, karena akan mudah retak dan sulit digulung. Ketika menumpuk kulit yang sudah jadi bisa ditaburi tepung (beras/terigu) supaya tidak lengket antar kulitnya. Cara ini bisa jadi sekitar 15-20 kulit pisang aroma.

Bahan dan cara  pisang aroma:

  • pisang raja (atau jenis lain yang lumer dan manis ketika digoreng)
  • gula pasir, gula jawa
  • DCC/coklat batang yang sudah dipotong-potong kecil

Potong satu buah pisang menjadi 6 bagian (atau sesuai selera). Ambil 1 lembar kulit pisang aroma, taburi gula, letakkan potongan pisang di atas gula, taburi lagi gula di atas pisang, tambah coklat, dan gulung kulit sampai menutup. Goreng dan pisang aroma siap diangkat ketika warna sudah kecoklatan (jangan sampai gosong).

Mengusahakan

Tentang melakukan yang terbaik, menjaga hak-hak orang di sekitar kita. Kadang kita terlalu fokus pada anggapan orang lain. Selalu merasa bersalah, padahal sudah mengusahakan yang terbaik. Insecure, pada penilaian orang. Lalai, tidak terasa mengorbankan kesehatan kita sendiri demi melegakan banyak pihak. Karena definisi baik setiap orang berbeda. Mungkin tak akan pernah bisa terpenuhi, karena tingkatan rasa syukur tiap orang juga berbeda.

Memikirkan orang lain itu baik. Usahakan yang terbaik sesuai kondisi saat ini, tapi pikiran, berpikirlah sebisanya dan sekuatnya saja. Jangan dipaksakan, sampai menggerogoti kesehatan. 

Ibuk,
kurang lebihnya.

Kesehatan nalar, kesehatan jiwa, kesehatan akan adanya rasa peduli.